Saturday, June 19, 2010

M. Miroto


INTERDISIPLIN DALAM TUBUH PENARI:
Menengok kembali koreografi “10 Menit Dari Borobudur” karya Sardono W Kusumo.
Oleh  M. Miroto

*
Mendapat undangan panitia IDF 2010 untuk partisipasi dalam diskusi dengan topic: “Mempertimbangkan kembali interdisiplin dalam seni pertunjukan”,  tiba-tiba saya ingat koreografi tunggal karya Sardono W Kusumo “10 Menit Dari Borobudur” yang saya saksikan pada tahun 80an di GBB TIM.  Saya ingin mencoba membuka bahan diskusi melalui karya Sardono yang tak pernah terlupakan ini. Bagaimana tubuh Sardono dalam karya ini dapat menjelma menjadi suatu pernyataan pencapaian spiritualitas manusia melalui kepiawaian acting, menari, dan mengarahkan musikalitas. Apakah tubuh Sardono yang penari, actor, dan sekaligus pengarah musik merupakan contoh tubuh penari yang memiliki interdisiplin?

**
Inilah ingatan saya koreografi “10 Menit Dari Borobudur”:
Suara chanting gaya ‘Tibet’ menggaung membuka suasana. Special lights perlahan fade in mencahayai Sardono yang duduk bersila mengenakan jubah Jepang berwarna hitam. Sambil memegangi michophone, dia berbicara dengan tenang-berwibawa tentang ‘Sang Pengemis Agung’ yang dia ‘temukan’ dalam pengembaraannya di candi Borobudur. Kemudian, dia berdiri dan perlahan tubuhnya berubah menjadi tarian ‘Sang Pengemis Agung’ dengan property tongkat. Gerakannya yang lambat, cepat dan sesekali mendadak berhenti, mengingatkan gerak-gerik Pencak Silat namun telah ditransformasikan ke dalam bahasa seni ekspresi. Dia kemudian berhenti menari, tubuhnya kembali wajar seperti Sardono seadanya dan kembali bicara dengan wibawa tentang pengalaman perjalanannya ketika dia mencapai puncak candi Borobudur.
Sardono berkata: “…dan…ketika aku tiba di puncak candi Borobudur….”. Dalam suasana hening yang terbangun, terdengar suara adzan dibarengi musik gerejani. Perlahan dia membuka jubahnya, kini dia tinggal memakai kain putih yang diikatkan di bagian pelvic seperti pemain Sumo Jepang. Tubuhnya perlahan mulai menjelma menjadi tarian, gerakannya mengingatkan akan pose-pose ‘tribangga’ penari di relief candi Borobudur, dan berkembang ke pose-pose Yesus di kayu salib. Sebuah pernyataan tentang hakekat ‘arupadatu’, ketika agama tidak lagi dipertentangkan.
Saya sangat tersentuh menyaksikan ‘patung hidup’ kesengsaraan Yesus dengan musik adzan dan lagu gerejani dalam koreografi ini. Saya masih mahasiswa saat itu, terharu dan meneteskan air mata, dan sampai sekarang tidak pernah terlupakan. Menyaksikan karya ini, saya melihat dan merasakan tubuh yang menjelma menjadi sebuah pernyataan tentang hakekat spiritual yang menyentuh symbol lintas agama: Budha, Kristen, dan Islam; simbol-simbol agama yang dalam kenyataan hidup bertabrakan, disatukan dalam tubuh Sardono. Rasanya tubuh sardono memiliki berbagai agama.
Dari karya ini, tubuh Sardono dapat diyakini menguasai lintas disiplin kesenian. Pertama, dia adalah seorang actor yang mendukung kemampuan acting dan berbicara secara dramatis.  Kedua, dia adalah seorang penari yang mendukung pengejawantahan relief penari  di candi Borobudur dan patung Yesus menjadi tarian. Kita juga tahu bahwa Sardono memang belajar Pencak Silat sehingga ‘permainan’ tongkat untuk koreografi “Sang Pengemis Agung”, efektif untuk menyampaikan gagasannya. Ketiga, faktor musik dalam karya ini amat penting dan menyatu dengan koreografi dapat diyakini merupakan konsep yang dibuat oleh Sardono. Dia adalah seorang pengarah musik yang cermat.  Keempat, tubuh Sardono adalah peneliti. Terwujudnya karya “10 menit dari Borobudur” bukan dari suatu ide yang tiba-tiba jatuh dari langit. Tema ini muncul dengan akibat dari ‘pergulatannya’ yang panjang di Borobudur. 
Apabila keempat aspek diatas disepakati sebagai bukti adanya lintas disiplin yang dikuasai Sardono, boleh jadi, tubuh Sardono dapat dijadikan contoh: tubuh penari yang memiliki interdisiplin.  Apakah interdisiplin diperlukan bagi penari - koreografer? Menurut pengalaman saya jawabannya: “ya”. Tubuh yang memiliki lintas disiplin merupakan akibat dari kesadaran pengembaraan ragawi yang disiapkan untuk merespon dunia dan menjelmakannya menjadi karya seni. Namun, interdisiplin dalam tubuh penari-koreografer tidak bisa dipaksakan. Interdisiplinitas dalam tubuh sejatinya merupakan akibat dari pengalaman-pengalaman hidup yang dijalani.
Aktivitas gerak tertentu  dan estetika tari menuntut suatu jalan hidup tertentu yang diraih melalui kedisiplinan kerja yang memakan banyak waktu. Disiplin, bagaimanapun terjadi setelah melalui proses yang panjang. Sebagaimana diungkapkan oleh Parviainen: “Tubuh dapat memiliki berbagai keahlian skill, tetapi untuk menguasai kedisiplinan esensi vokabulari gerakan tertentu memerlukan perjuangan dan waktu yang panjang, yang mana seseorang memiliki keterbatasan akal”. Sedangakan Anna Halprin mengatakan: “Apapun yang kita lakukan dalam seni tari biasanya berkaitan dengan siapa anda sebagai person, dan hal ini memberi dampak bagaimana anda melihat sesuatu dan merasakan sesuatu dan menghubungkan dengan orang lain”.  (Parviainen: 122-123).

***
Tubuh penari-koreografer Sardono dalam “10 Menit Dari Borobudur” merupakan contoh tubuh yang menguasai seni pertunjukan, memiliki lintas disiplin bukan hanya menguasai bidang kepenarian, keaktoran, musikalitas, namun juga sebagai tubuh ‘peneliti’ yang cerdas yang mampu menangkap dan menjelmakannya menjadi karya seni. Keluasan pengembaraan kreativitas dalam dunia seni tari merupakan peluang dan tantangan para penari – koreografer untuk menjelajah secara tekun melalui training dan produksi yang memakan banyak waktu, tenaga, biaya, dan kesabaran, tanpa jaminan kesuksesan.
Sebagaimana kita tahu bahwa karya tari kontemporer semakin terbuka bahkan tak terbatas, dengan demikian, tubuh penari kontemporer perlu melakukan penjelajahan interdisiplin untuk menyiapkan tubuh yang sanggup sebagai ‘materi aktif’ yang kreatif dan menguasai tubuhnya sendiri. Setiap penari yang pentas di atas panggung sesungguhnya menjadi titik perhatian yang lemah. Apapun yang dilakukan; menari, acting, berbicara, diam, bingung, dll, akan diikuti oleh mata penonton. Rockwell mengatakan: “ Tidak ada tempat untuk bersembunyi dan jika anda mencari tempat bersembunyi, maka itulah yang tersaji. Jadi, singkatnya, tidak ada cara untuk melarikan diri. Inilah daya sihir sekaligus terror dalam seni pertunjukan. Keduanya merupakan daya tarik yang menempatkan kita pada keadaan yang sangat menggelisahkan manakala pertunjukan digulirkan. (Parviainen: 170).
Kita dapat belajar dari tubuh Sardono yang memiliki interdisiplin, menjadikan tubuhnya memiliki keleluasaan dalam mengekspresikan ide ke dalam karya seni. Keempat disiplin yang telah diuraikan di atas sesungguhnya hanya sebagian dari bidang yang dikuasai karena dia sesungguhnya juga seorang sutradara film dan pelukis yang dihormati. Perjalanan panjang. Pengembaraan ragawi ‘tubuh’ Sardono merupakan contoh konkrit bahwa setiap ide yang menjelma menjadi karya adalah akibat dari perjalanan hidup yang dipilih.


Referensi:
  • Kusumo, Sardono W. 1983: Pertunjukan koreografi “10 Menit Dari Borobudur”. GBB TIM Jakarta 
  • Parviainen, Jaana. 1998: Bodies Moving and Moved. Tampere University Press 
  • Blom, Lynne Anne and L.Tarin Chaplin. 1982: The Intimate Act of Choreography. University of Pittsburgh Press.
  • Lepecki, Andre (editor). 2004: Of the Presence of the Boby. Wesleyan University Press.



-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


INTERDISCIPLINE INSIDE THE BODY OF A DANCER:
Looking back choreography performance "10 Minutes from Borobudur" by Sardono W Kusumo

Written by M. Miroto


*
Receiving an invitation from the 2010 Indonesian Dance Festival’s (IDF) committee to participate in a discussion with the topic of "Reconsidering the Interdiscipline Subject of Performance", I suddenly remember one single choreographic works Sardono W Kusumo "10 Minutes from Borobudur" which I witnessed in the 80s at the Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (GBB TIM). I would like to try to open the discussion through this unforgettable work of Sardono. How Sardono's body could be transformed into a statement of attainment of human spirituality through mastery in acting, dancing and directing musicality. Does the body of Sardono as a dancer, an actor, and a composer as well is an example of a dancer’s body who has an interdisciplinary aspects?

**
This is my choreographical memory of "10 Minutes from Borobudur":

Tibetian style voice chant opened the atmosphere. A special light slowly fade into Sardono who sat cross-legged wearing a Japanese black robe. Holding a michophone, he spoke calmly with authority about 'The Great Beggars' that he 'found' while wandering in Borobudur temple. Then, he stood up and slowly turned his body into a dance of 'The Great Beggars' with a stick as a device. His movements were slow, fast, and occasionally a sudden stop, reminding gestures of Pencak Silat that had been transformed into the language of an expression of art. He then stopped dancing, his body backed to normal as Sardono improvised and returned to spoke with authority about his journey when he reached the top of Borobudur temple.

Sardono said: "... and ... when I reached the top of Borobudur temple ....'. In a silent atmosphere, we slightly heard the sound of azan calling side by side with an ecclesiastical music. Slowly he opened his cloak. He then wore a white cloth tied around the pelvic like a Sumo players. His body slowly began to transform into a dance, his movements reminiscent of the 'tribangga' dancer poses on the relief of Borobudur temple and evolved into the poses of Jesus on the cross. A statement of the 'arupadatu' essence, when religion is no longer disputed.

I was very touched whitnessing this 'living sculpture' about the miserable life of Jesus while playing an azan calling music together with an ecclesiastical song in this choreography. I was a student at that time, deeply touched and shed a tears, and had never forgot it until now. Watching this work, I saw and felt the body transformed into a statement about the spiritual essence that touches the cross-religions symbols: Buddhism, Christianity, and Islam. Religious symbols that in real life collide, Sardono incorporated them into his body. Sardono's body seemed to have different religions.

From this work, Sardono's body can be believed as crossing interdisciplinary arts discipline. First, he is an actor supporting his capability in acts and he speaks so dramatically. Second, he is a dancer who supports the manifestation of dancers depicted on the bas-reliefs of Borobudur temple and also the statue of Jesus into a dance. We also acknowledge that Sardono was indeed studied Pencak Silat so that the stick 'game' transformed into choreography of "The Great Beggar", an effective way to convey his ideas. Third, the music factor in this work was very important and can also believed as a concept created by Sardono. He is a conscientious composer. Fourth, the body of Sardono as a researcher. The realisation of his "10 minutes from Borobudur" is not an idea that suddenly fallen from the sky. This theme appears as a result from his long 'struggle' in Borobudur.

If the abovementioned four aspects are agreed as an evidence of interdisciplinary mastered by Sardono, probably, Sardono body could serve as an example: a dancer's body that has an interdiscipline aspects. Does interdiscipline necessary for a dancer - choreographer? In my experience the answer is yes. A body that has a cross-discipline is the result of bodily odyssey prepared to respond the world and incarnate to become an art work. However, interdiscipline in the body of a dancer-choreographer can not be enforced. Interdisiciplinary in his/her true body is a result of a life experience that lead.

Certain motion activities and dance aesthetics requires a specific way of life achieved through discipline of work which is time consuming. Discipline, however, occurred after a long process. As revealed by Parviainen who said that "The body can have a broad range of skill expertise, but to master the essence vocabulary discipline of a specific movement requires a long period of struggle, in which a person has a reasonable limitation." While Anna Halprin stated that: "Whatever we do in the art of dance, it is usually associated with who you are as a person, and this has an impact of how you see and feel something and connect it with others." (Parviainen: 122-123).

***
Dancer-choreographer Sardono's body in "10 Minutes from Borobudur" is an example of a body that master a performing arts. His cross-discipline mastery is beyond the field of dancing, acting and musicality, but also an intelligent researcher's body, able to capture and manifest into an art work. The width odyssey of creativity in the arts of dance is an opportunity and challenge for dancer - choreographer to explore diligently through training and production that takes a lot of time, effort, money and patience, with no guarantee of a success.

As we acknowledge that everlasting overture of contemporary dance works is more and more unlimited, thus, the contemporary dancer's body needs to prepare for the interdisciplinary exploration of the body capable of being an 'active content' creative and mastering his own body. Each and every dancer who performs on stage are actually become a weak point of attention. Whatever he/she is doing; dancing, acting, speaking, silent, confused, etc., will be followed by the spectator's eyes. As Rockwell said, "There is no place to hide and if you are looking for one, it is clearly reflected. So, in short, there is no way to escape. This is the magical power and also the terror in the performing arts. Both are an attraction that put us in a very disturbing situation when the show is rolling." (Parviainen: 170).

We can learn from Sardono’s body which has an interdiscipline aspects, making his flexibility in expressing ideas into art work. The four disciplines abovementioned are in fact only part of the field mastered because he is presently a film director and also a respected painter. Long journey. The corporal odyssey of Sardono's body is a concrete example that any idea incarnated into an artwork is the fruit of life long journey that has been selected.


References:
- Kusumo, Sardono W. 1983: Performing choreography of "10 Minutes From Borobudur". GBB TIM Jakarta
- Parviainen, Jaana. 1998: Bodies Moving and Moved. Tampere University Press
- Blom, Lynne Anne and L. Tarin Chaplin. 1982: The Intimate Act of Choreography. University of Pittsburgh Press.
- Lepecki, Andre (editor). 2004: Of the Presence of the have mutual. Wesleyan University Press.








No comments:

Post a Comment