Saturday, June 19, 2010

Eko Supriyanto

“Mencipta Koreografer Baru”
Sebuah Tawaran Eksplorasi Ruang Penciptaan Tari



I
Pada sebagian seniman tari, terkadang kurang menyakini dan merasa tidak percaya diri dengan kehadiran video kamera. Kebanyakan juga dari mereka masih menganggap bahwa alat media ini tidak akan ada kesamaan yang berintegrasi seperti layaknya “real audience” atau penonton yang sesungguhnya di panggung seni pertunjukan. Akan tetapi, percaya atau tidak, video kamera (sebut saja kamera secara umum) adalah penonton yang sangat baik. Memberikan perhatian yang sangat mendekati sebagai layaknya penonton yang duduk di kursi gedung pertunjukan.
John Bishop, seorang Ethnografer dari Amerika dalam beberapa pengalamannya meneliti dan membuat beberapa film berjenis penelitian dokumentasi dan Ethnography. Memberikan argumentasi bahwa, “seperti layaknya seorang koreografer; kamera memberi ruang, menempatkan subjeknya di ruang tersebut dan mengerakkannya diantara ruang-ruang yang memberikan imajinasi ruang tanpa batas” . Seperti layaknya juga dalam pertunjukan tari di panggung teater, statmen ini membuktikan bahwa akhirnya tantangan yang paling mendasar adalah pada “tangkapan indera mata”. Mata yang akhirnya membiarkan pertanyaan muncul, mencari dan berusaha tidak melewatkan adegan maupun gerakan tarian yang disajikannya. Mata yang mencoba meresapi esensi pemilihan detail gerak serta koreografinya, dan mata yang tiada henti mengikuti kekuatan enerji dan sensor gerak dalam tubuh dan koreografinya. Bedanya hanya disajikan di ruang panggung teater dan di layar monitor. Hanya ruang dan waktu sajian pertunjukannya yang berbeda.
Fenomena munculnya ranah yang berada dalam dimensi ruang dan waktu yang bereda ini, disebut juga sebagai koreografi baru. Pertunjukan yang melibatkan multi media ini, sudah sejak lama menjadi perhatian para pembuat tari, pen-dokumentasi dan sineas film. Di Amerika dan Eropa, seperti misalnya program List of Dance in America, A Time to Dance, dan Arts USA . Jac Venza yang menjadi salah satu programmer dan supervisi, menyatakan bahwa program tersebut, telah mempublikasikan dalam cakupan internasional sejak tahun 1970-an. Program broadcast ini melibatkan koreografer, produser dan sutradara. Kolaborasi yang membidik permasalahan tubuh dalam tari, gerak dalam koreografi serta media teknologi ini menggaris bawahi bahwa seniman tari selalu behubungan dengan ruang pementasan tari. Sesi komposisi gerak tubuh hingga detail pengambilan shot kamera pada esensi gerak dan koreografinya, melibatkan metafor dan medium ruang dan waktu dalam sesi sajian pertunjukannya.
Gerak, tubuh atau koreografi yang terbidik dalam frame pendek (short), panjang (long Shot) medium dan kontiniti/terus menerus dan berkesinambungan. Gairah ini sebetulnya memberikan wacana baru dalam penguasaan ilmu yang terkait dengan bidang koreografi. Lebih jelas lagi dalam koreografi tari di kenal dengan istilah fokus dan inisiasi. Sehingga dampka fokus dan inisiasi dalam komposisi gerak koreografinya, tidak merujuk pada satu ruang dan dimensi waktu yang sesaat (on the spot), tetapi dapat terekam dan disajikannya dalam ruang dan waktu yang berlainan. Akan tetapi, motivasi fokus dan inisiasinya tetap tersaji sesuai dengan komposisi koreografinya.
Hingga pada era milenium bermunculan ajang festival bergengsi untuk tari dan kaitannya dengan multi media dan film ini. Tari dan pertunjukannya tidak hanya berkutit pada gerak dan ruang pentas pertunjukan panggung. Ajang Dancing on Camera Festival, Eyes in Motion Film Festival dan beberapa nama festival lain di seantero dunia. Mulai berkembang dan memberikan apresiasi serta rujukan penting dalam perkembangan tari dan koreografi.
Di tanah air, kegelisahan ini terwadai dengan munculnya festival film tari internasional tahun 2002. Walau pada kenyataannya masih menyuguhkan ajang film dokumentasi tari, tetapi perlu dicatat sebagai salah satu keinginan penting dalam membuka wacana dan pengetahuan tari di layar teknologi. Adalah Chendra Penatan, koreografer dan penari di Jakarta yang bekerjasama dengan British Council yang akhirnya festival film tari pertama ini memilih karya Bagawan Ciptoning dengan karya Taman Sari sebagai film tari terbaik. Walau menuai beragam kritik dengan ajang festival baru ini, setidaknya Chendra telah juga berhasil membawa dan menawarkan berbagai ragam film tari dari seluruh penjuru dunia untuk lebih mewacanai tari dalam konteks yang berbeda.
Fenomena dan perkembangan koreografi baru ini semakin menggairahkan. Agak menyedihkan apabila hal ini justru semakin menjadi bahan ekplorasi kekaryaan, kajian dan kolaborasi yang banyak terjadi di Amerika dan Eropa, belum banyak terjadi di tanah air tercinta. Setidaknya apa yang pernah ditawarkan oleh Cendra Penatan menjadi awal langkah rujukan penting yang harus diteruskan. Tulisan ini setidaknya mengharap para kreator tari mulai terjangkit revolusi tubuh dalam frame teknologi ini. Setidaknya pula memberikan gambaran bahwa betapa mengairahkan dan menyenangkan apabila eksplorasi ruang dan waktu yang baru dalam koreografi tari ini semakin dijelajahi sebagai ungkapan eksplorasi tanpa batas dalam ruang gerak tubuh yang bekolaborasi dengan gejala globalisasi. Globalisasi dan kemajuan yang semakin maju yang terkadang harus kita sikapi dengan tanggap dan saling dapat menguntungkan.


II
Hampir di seluruh negara bagian di Amerika, beberapa negara di Eropa dan Asia sejak akhir 1990-an telah menggelar ajang festival film tari dan dokumentasi tari. Perkembangan ini mengembirakan karena tidak hanya menyuguhkan atribut gerak tubuh penari, koreografi tetapi eksplorasi, kolaborasi serta eksperimentasi tari yang semakin tiada batas. Memberikan ruang yang sesungguhnya diantara ragam perbedaan suku bangsa, ras dan agama. Menyikapi perkembangan teknologi yang kiranya perlu pensikapan yang saling menguntungkan bagi kemanusiaan dan keduannya. Kecangihan alat media ini selayaknya diimbangi dengan kecangihan, kepiawaan seorang seniman tari, koreografer untuk memberikan penawaran cultural kepada mata media, sehingga mediasi multicultural untuk dokumentasi dan ekspresi dapat menempatkan andil yang terbuka.
Dalam perhelatan Indonesian Dance Festival yang digelar pada tanggal 27-31 Oktober 2008 di Taman Ismail Marjuki, kehadiran Min Tanaka, seniman tari asal jepang yang berlatar belakang penari Butoh. Mulai menggagas eksplorasi kepenarian dan kesenimanannya dengan menghadirkan kekuatan visual gambar dalam sebuah film. Sebuah kekuatan modernitas yang mendominasi kekuatan ruang tubuh dan publik. FX Widaryanto menyebutnya dengan workshop sharing yang signifikansinya menatap gejolak media baru untuk memformulasikan pengalaman seorang seniman dan persentuhannya dengan realita kehidupan dewasa ini . Secara konseptual Min Tanaka membiarkan begitu saja dirinya, tubuhnya larut dalam hubungannya dengan alam dalam menari. Yang lebih menarik stetmen di atas justru serasa pas karena tatkala Min Tanaka menyuguhkan film dari perjalanan menari dia di Indonesia, selalu berhubungan dengan alam dan manusia. Lebih jauh lagi, semakin terasa impresi bahwa hubungan keduanya semakin tidak ada. Bahwa terasa betul bagaimana rentannya hubungan manusia dengan alam.
Kehadiran karya tari “Ranjang Besi” oleh Garin Nugroho versi teater dari film Opera Jawa, membuktikan bahwa pengalaman sineas ini mampu memformulasikan ekspresi yang baru. Saling menguatkan medianya masing-masing. Pengkayaan daya ungkapnya tidak hanya pada bentuk dan tubuh serta gerak semata. Terlebih lagi ketika film Opera Jawa yang memulai premiernya pada perhelatan New Crown Hope Festival (2006) di Vienna Austria dalam festival internasional dalam rangka ulang tahun komponis Mozart ke 250th, masih berlangsung hingga tahun 2009 ini. Bulan Agustus 2009, film ini dipergelarkan dalam rangkaian Mostly Mozart Festival di Lincoln Center New York. Film berdurasi 2 jam ini, sungguh merupakan sebuah penawaran baru dalam ranah film di abad ke 21. Peter Sellars, sutradara teater dan Kurator film, menyebutnya sebagai capaian termuktahir pada abad ini yang mengkombinasikan secara cerdas antara seni pertunjukan tari, musik, seni rupa dan instalasi dengan media film dan kancah festival film dunia.
Film ini mengetengahkan rangkaian plot-plot adegan non-naratif sebagai film non-fiktif, tetapi keterkaitan reproduksi kolaborasi masal dalam kaidah seni pertunjukan dan seni rupa ini berjalan berdampingan saling mengisi dan menguatkan. Dalam konteks koreografi, film ini menyuguhkan dimensi koreografis yang sangat tidak seperti biasanya. Kondisi ruang yang telah teradopsi dalam frame kamera, membidik lugasnya creativitas kolaboratif antara koreografer dan sutradara. Keduanya saling memberi dan mengadopsi teks dan konteks terjemahan gerak dan koreografi dalam ruang dan waktu yang saling menguntungkan. Pemilihan dan penekanan koridor koreografi dan gerak yang diadopsi dari eksplorasi ruang pentas, kemudian tertransfer dalam ruang mata kamera yang menawarkan bentuk dan sajian berbeda dengan sebelumnya. Pada akhirnya, seperti dalam keharmonisan kerja kolaborasi, saling menghargai, menghormati dan menikmati, terekam dan tersaji dalam alur yang mempesona dan bertabur imajinasi.


III
Bagong Kussudiardjo (alm) berpendapat bahwa, menjadi seorang seniman pencinta tari atau koreografer tidak harus menguasai pengetahuan yang berhubungan dengan seni tari dan menguasai salah satu bentuk tari baik tarian daerah, primitif maupun modern . Sebuah transaksi kebudayaan yang menggulirkan perjalanan panjang dalam pencapaiannya sebagai pengalaman batin adalah yang paling mutlak dimliki oleh seorang koreografer. Meneruskan uraian di atas, Garin Nugroho yang semakin menancapkan posisinya dalam ranah seni pertunjukan adalah bukan seorang koreografer atau penari. Akan tetapi perjalanan panjang ke-delegasi-an Garin akan detail warna simbolik di kepulauan nias misalnya. Juga kesadaran bahwa akan adanya respon siknifikan dari seorang penari Bali terhadap kain Putih yang di bentangkannya dalam sebuah pameran instalasi di Munich Jerman. Sekali lagi statement Bagong Kussudiarja perlu digaris bawahi.
Garin Nugroho semakin sadar akan kebutuhan “eyes catching” lensa kamera ketika tarian dan koreografi Martinus Miroto dalam film Opera Jawa menjadi semakin dapat mewakili kaidah ketubuhan akan sensibilitas sensor dan ruang aura. Terlebih ketika DOP (Director of Photography) memperketat mata kameranya terhadap detail gerak dan mengkontrasknnya dengan leburan cahaya dan warna natural. Seakan akan Teoh Gay Hian mampu memiliki standar criteria seperti yang menjadi pendapat almarhum Bagong Kussudiarja. Teoh seakan menjadi wakil dari sang sutradara untuk memperlakukan tari dalam konteks pemaknaan yang lebih jelas (sesuai dengan naskah). Tantangan yang dirasa oleh sang DOP ini menyertakan pertanyaan dan harapan dari koreografer tari itu sendiri. Gerak ditail yang koreografer inginkan untuk lebih menjadi fokus dari pangambilan sciennya. Ataupun kerjasama dengan sutradara dan koreografer untuk pemilihan lokasi “take atau action”nya.
Dia sangat menyakini bahwa menjadi DOP untuk film yang lebih menitik beratkan pada unsur gerak dan koreografi serta tari, dialog panjang dan runtut menjadi sasaran utamanya untuk dapat memberikan kontribusi yang sesuai dan memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi pemahaman dan interpretasi. Teoh sangat sadar bahwa butuh ekstra energi dan effort untuk mendapatkan hasil tangkapan mata yang terbaik daginya dan bagi penontonnya. Sama halnya ketika Evann E.Siebens seorang cinematografer, berpendapat bahwa sebagai seorang sinematografer sangatlah jarang ditemukan sinematografer yang specialized membuat film tari. Hal ini dikarenakan hampir kabanyakan DOP belajar dan memperkaya pengalamannya pada format shoting yang lain. Hampir kebanyakan shoting cerita narative pendek atau panjang, film dokumentari atau bahkan film eksperimental sebelum pada akhirnya memilih untuk bekerja pada sebuah proyek yang berhubungan dengan tari . Argumentasi ini juga di rasakan oleh keduanya sebagian jawaban dalam memilih untuk bergabung dalam ranah film dan tari. Teoh dan Evann menyadari bahwa untuk andil dalam bidang kerja ini akan sangat tidak bernaung dalam ranah poyek-proyek komersial yang tidak akan mendapatkan ibalan yang menyamai ketika Teoh bekerja untuk membuat klip film dalam tayangan iklan sebuah produk minuman dingin.
Berbekal pengalaman batin inilah akhirnya Sardono W.Kusumo mencipta karya tari Samgita Pancasona, 10 menit dari Borobudur serta Dongeng dari Dirah yang kiranya menjadi cikal bakal film tari di tanah air. Yang terasakan, yang terpikirkan, yang ter-respon dari diri senimannya akan menjadi rentetan visual journey, menjadi sumber utama inspirasi kekaryaan tarinya. Pengalaman ini setidaknya mampu memberlakukan proses kreatif selanjutnya sebagai sumber penciptaan tari. Paling tidak pengalaman ini akan sedikit memberikan keleluasaan akan batasan harafiah arti koreografer untuk kemudian ditelaah lagi sebagai kajian fenomena untuk. Walaupun secara sadar perkembangan teknik koreografi telah juga mengalami perkembangan yang kian samar batasan antara cabang seni yang satu dengan yang lain.



IV
Berbekal pengalaman yang sarat dengan kendala dan kesuksesan, teknik koreografipun kian semakin terbuka. Teknik koreografi tradisi (menyusun pola gerak tradisi), seperti telah banyak dilakukan oleh alumnus ASKI dan PKJT dibawah bimbingan alm Gendhon Humardani. Kepiawaian tari Watang dalam koreografi dan komposisi yang berbeda. Adaptasi kekinian dan kesederhanaan tanpa meninggalkan esensi dan pencapaian teknik tari tradisi. Atau hadirnya karya tari Ronggolawe Gugur oleh Sunarno dan terkini, hadirnya Ramayana Kontemporer karya Nuryanto. Hingga rentetan perjalanan dan eksistensi teknik koreografi tradisi pada masa ISI Surakarta masih berstatus STSI. Memunculkan karya tari mahaiswa dengan masih mengembangkan pola teknik koreografi tradisi, seperti Dramatari berdioalog, karya tari tidak berpola cerita hingga teknik koreografi tari yang bersumber dari tari rakyat. Kesuksesan rentang waktu dan perjalanan teknik koreografi ini perlu ditinjau kembali untuk penerapan pada era pendidikan sekarang ini.
Dalam kaidah dan pemaknaan yang berbeda, tekni koreografi penggarapan komposisi ruang dan site specifik, pengolahan kontak tubuh dalam teori koreografi improvisasi. Atau bahkan ketika Sal Murgiyanto memberikan gambaran umumnya tentang teknik koreografi bahwa; yang pertama adalah koreografi yang menghamba pada cerita. Kedua adalah yang sama sekali tidak naratif, lebih puitis abstrak dan hanya pada esensi tertentu saja pemilihan topik penggarapannya. Yang pertama artinya bahwa cabang delegasi ini lebih memprioritaskan pengadeganan yang sesuai dangan cerita, Alur suasana yang disusun dalam teknik dramaturgi sederhana. Serta penggarapan suasana yang menjadi titik tolak penggarapan sebuah karya tari. Sedangakan yang kedua adalah mengikuti aliran, prioritas dan penggarapan suasana yang berbeda dari yang pertama. Sedangkan ke tiga dan seterusnya adalah bagian teknik koreografi yang berada diantara pertama dan kedua. Artinya bisa saja teknik koreografi yang terinspirasi dari property, kostum, musik, lighting, artefak dan lainnya.
Melihat hasil dan kenyataannya karya tari seperti pada pilihan pertama masih subur tercapai dengan munculnya karya tari Retno Maruti, Elly D luthan, group drama wayang Kusumo Budoyo, Budaya Nusantara dan selebihnya pada hadirnya gairah pencapaian teknik koreografi ini. Fenomena tari tradisi di kota metropolitan yang idelanya akan menambah jumlah pendewasaan teknik koreografi cerita. Kalaupun kemunculan teknik koreografi tari yang lebih mengusung tema personal seperti pada pola garapan koreografinya Bill T. Jones, atau alam oleh Anna Harlpin dan Suprapto Suryodarmo atau Fitri Setyaningsing yang lebih menggagas pendekatan teks dan konteks property/benda yang kemudian teks dan konteks tubuh mengikutinya. Sehingga teramu sajian koregrafi yang justru tidak lagi mengandalkan kepekaan dan kecerdasan tubuh. Nampaknya semakin banyak sumber inspirasi dan interpertasi yang dapat di usung dalam proses penciptaan koreografi. Salah satunya adalah teknik koreografi yang dilakukan oleh para DOP dan sinematografi melalui bidikan mata via lensa camera serta proses editing hingga menghasilkan karya tari yang diinginkannya.
Proses ini dapat setidaknya kita melihat perkembangan dan capaian festival-festival film tari yang disajikan dalam format yang tidak se-konfensional panggung pertunjukan. Bahwa koregrafer dapat lahir dari ajang bergensi yang semakin mempermudah dalam memformulasikannya ke bentuk akhir karya tari seni pertunjukan. Media visual tidak lagi dapat dinikmati dengan lahirnya tayangan bermutu rendah. Tayangan esensian kehidupan kemanusian pun dapat serta merta kita temukan dalam katagori perfileman berakses seni tari ini. Dongen dari Dirah, Opera Jawa, Generasi Biru dan film musical lainnya kian tidak merana didunia perfileman dan seni pertunjukan. Kontrak komersial dan eksistensi kesenian “seni untuk Seni” kian terbuka lebar dalam penampungan yang terbuka lebar kesempatannya. Serta tantangan untuk selalu mendokumentsikan tari dan karya tari untuk wacana penelitian dan dialog apresiasi

V
Adalah sebuah penawaran pada bidang koreografi, dimana minat utama pada eksplorasi gerak dan kekaryaan tari untuk panggung seni pertunjukan, dapat di wadai oleh kredo media dan visual. Pencapaian ini sepertinya akan dapat terwujud dengan adanya keterbukaan dan kesadaran akan banyaknya perbedaan. Namun, dengan dibukannya program televisi dan audio visual di almamater ini, sepertinya meberikan tawaran pembuka untuk lebih melengkapi kancah seni pertnjukan tari yang semakin ramai dikunjungi.
Apabila seperti diuraikan diatas, lebih memberikan apresiasi dari referensi apa yang terjadi di barat (Amerika dan Eropa) hanyalah sebuah challenge untuk lebih mengerti kuantitas dan kualitas kita sendiri. Tersedianya bahan (stok) yang secara identitas dan cultural dirasa sangat dapat melebihi dan melengkapi fenomena film tari di barat. Sal Murgiyanto dalam artikel yang di tulis dan di sampaikan dalam seminar Krisis Kritik, Seperempat Abad Pasca Gendhon Humardani, telah membabat habis statmen dari dua penulis di media nasional. Sepertinya tidak hanya “sense of critical” saja yang harus banyak terjadi di program studi tari dan koreografi. Akan tetapi, bahwa kritik dari dan untuk diri sendiri akan apa yang menjadi fenomena dan mengeliat di ranah tari nasional dan internasional, perlu disikapi dengan cepat, tanggap dan lugas.
Fenomena film tari dapat sepertinya kita ilhami sebagai tantangan baru, sebagai value/nilai baru. Dengan keberadaan seniman lulusan dan mahasiswa lembaga kita, dapatkah piranti teknologi ini tidak hanya sekedar menjadi pelengkap keberadaan koreografi. Akan tetapi dapatkah kamera menjadi sang koreografer baru dalam meniti karirnya sebagai mata yang dapat beradaptasi dengan keunggulan karya tari tradisi, kontemporer bahkan personal dan alam. Mampukah kita melahirkan sinematografer yang berlatar belakan tari dan koreografi, seperti halnya kekurangan kita akan profil kritikus dari prodi tari dan koreografi, dan atau peneliti tari yang berangkat dari para praktisi tari. Mampukah bakal calon sineas mahasiswa dan lulusan lembaga kita dapat mengakses ranah film tari internasional. Harapan ini sekali lagi bukan berandai-andai. Karya Pasar Gedhe-nya Sri Setyoasih, Rama Bladu-nya Eko Wahyu atau Catatan Harian-nya Jonet Sri Kuncoro, para koreografer lulusan S-2 ISI Surakarta ini menjadi sebuah film tari yang siap untuk mengikuti ajang pertunjukan film tari dunia, atau bahkan karya tari empu tari yang tidak hanya menjadi ajang pendokumentasian semata. Dengan laku personal para empu ini, koreografer film tari akan membuat karya film tari yang berbasis ethnography performance (pertunjukan ethnografi), atau sebuah program teknik koreografi yang berbasis film tari dengan menggunakan hand phone oleh mahasiswa tari.


Daftar Pustaka

Bagong Kussudiardja., Dari Klasik Hingga Kontemporer. Cetakan II, Yogyakarta: Padepokan Press, 2000
Banes, Sally., Writing Dancing in the Age of Postmodernism. Hanover, N.H., and London: Wesleyan University Press and University Press of New England. 1994
Bremser, Martha., Fifty Contemporary Choreographers. London, New York: Routledge, 1999
FX Widaryanto., Kritik Tari, Gaya, Struktur, dan Makna. Bandung: Kelir, 2005.
Garin Nugroho., Kekuasaan dan Hiburan. Cetakan II. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1998
Hawkins, Alma. M., Bergerak Menurut Kata Hati. Terjemahan I Wayan Dibia. Cetakan I. Jakarta: Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2003
RM Soedarsono., Menulis Kritik Seni, (Mengenang S.D. Humardani yang Mengajari Seniman Tradisi untuk Berfikir dan Menulis Kritik). Krisis Kritik, Seperempat Abad Pasca Gendhon Humardani, Rustopo editor: Surakarta, ISI Press 2008
______________., Seni Pertunjukan Dari Perspektif Politik, Sosial dan Ekonomi. Cetakan I. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2003
_______________., Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata. Cetakan I. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan dan Arti Line, 1999
_______________., Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Cetakan I. Edisi III. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2002
Rustopo, ed., Krisis Kritik: Seperempat Abad Pasca Gendhon Humardani. Surakarta: ISI Press Surakarta, 2008
McPherson, Katrina., Making Video Dance, A Step-by-step Guide to Creating Dance for the Camera. London, New York: Routledge, 2006
Mitoma, Judy., Envisioning Dance On Film and Video. New York, London: Routledge, 2002
Novack, Chintia Jean., Sharing The Dance: Contact Improvisation and American Culture. London: The University of Wisconsin Press, 1990
Rustopo, ed., Krisis Kritik: Seperempat Abad Pasca Gendhon Humardani. Surakarta: ISI Press Surakarta, 2008
Sal Murgiyanto., Moving Between Unity and Diversity: Four Indonesian Choreographers. Desertasi Ph.D di New York University. New York. 1991
_______________., Tradisi dan Inovasi, beberapa masalah tari di Indonesia. Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2004.
Sardono W. Kusumo., Hanuman, Tarzan, Homo Erectus. Penerbit ku/bu/ku, 2004.
Umar kayam., Transformasi Budaya Kita., Pidato Pengukuhan Guru Besar pada Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, tanggal 19 Mei 1989.
Yampolsky, Philip, ed., Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan: Perubahan dalam Pelaksanaan, Isi dan Profesi. Jakarta: PT. Equinox Publishing Indonesia, 2006

No comments:

Post a Comment