Saturday, June 19, 2010

I Wayan Dibia

TIGA PULUH SATU TAHUN PESTA KESENIAN BALI
EKSISTENSI DAN KONTRIBUSINYA



1. Latar Belakang
Di antara pertengahan bulan Juni dan Juli, selama satu bulan penuh, denyut aktivitas seni masyarakat Bali sangat terasa karena adanya Pesta Kesenian Bali (PKB). Perhelatan budaya non-religius ini, yang dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat dan Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Bali, adalah sebuah wahana kegiatan budaya nasional yang diselenggarakan di Bali. Bagi masyarakat Pulau Dewata, PKB sudah menjadi sebuah ritual yang diharapkan akan membawa perubahan, jika tidak perbaikan, terhadap kehidupan seni dan budaya Bali.
Jika diibaratkan manusia, dengan usia tiga puluh satu tahun, PKB sesunguhnya sudah cukup dewasa. Namun dalam kenyataannya, PKB masih membutuhkan banyak pembenahan pada beberapa bagiannya. Ironisnya, hingga kini PKB masih sering berkutat dengan citranya yang sering kali bergeser dari sebuah pesta (festival) seni menjadi pasar seni.
Sebagai sebuah festival seni, PKB yang dimaksudkan sebagai ajang edukasi, promosi, dan rekreasi seni ini harus mampu menyuguhkan karya-karya seni yang dapat meningkatkan kecerdasan/kepekaan seni dari setiap individu dan masyarakat yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian, pesta seni akan dapat menggugah dan memperkokoh rasa kebanggaan (cultural pride) warga masyarakat terhadap warisan seni dan budaya mereka.
Sesuai judul yang tertera di atas, makalah ini akan mejelaskan keberadaan dan kontribusi PKB terhadap kehidupan seni dan budaya Bali di zaman modern ini. Dengan pembahasan ini penulis bermaksud untuk menyajikan dampak positif maupun negatif dari PKB setelah tiga puluh satu tahun berkiprah secara apa adanya.

2. Mengapa Pesta Kesenian Bali
Berkesenian adalah bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Setiap upacara adat dan agama Hindu yang terjadi di masyarakat selalu melibatkan berbagai sajian seni (musik, tari, drama, rupa, kriya, sastra, dan lain-lain). Pelaksanaan upacara adat dan agama yang terjadi sepanjang tahun telah menjadikan Bali suatu daerah sekaligus wilayah budaya yang tidak pernah sepi dari pesta kesenian. Jika demikian halnya, mengapa Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Bali kemudian menciptakan Pesta Kesenian Bali ?.

Ada dua hal mendasar yang patut dipahami untuk menjawab pertanyaan di atas. Pertama menyangkut keinginan untuk mengadakan festival seni yang bersifat non-religius, dan yang kedua mengenai gagasan untuk membangun suatu landasan kreativitas seni berdasarkan kepribadian yang kuat.
Seperti telah banyak dikemukakan oleh para penulis terdahulu bahwa kebanyakan ”pesta kesenian” yang dilakukan oleh masyarakat di berbagai desa di Bali pada umumnya terkait erat dengan pelaksanaan upacara adat dan agama yang bersifat sakral. Sebagai bagian dari suatu peristiwa budaya yang bersifat religius pergelaran kesenian yang tercakup di dalamnya tidak boleh lepas dari ikatan tempat, ruang, dan waktu pelaksanaan suatu upacara. Di samping itu, pergelaran seni dalam kaitan upacara keagamaan seperti ini pada umumnya melibatkan dan boleh dihadiri hanya oleh warga masyarakat setempat. Oleh sebab itu PKB, dengan menyajikan jenis-jenis kesenian yang bersifat sekuler (balih-balihan) sebagai materi utama, menjadi pilihan yang terbaik karena selain bisa dilaksanakan secara lebih bebas festival ini bisa melibatkan banyak orang serta boleh dihadiri oleh seluruh masya-rakat Bali.
Gagasan dasar diciptakannya PKB terungkap dalam pidato pembukaan PKB I, tanggal 20 Juni 1979, dari almarhum Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, penggagas PKB, yang antara lain menyatakan:
”Pesta Kesenian Bali 1979 ini sesungguhnya ingin meletakkan dan menempatkan diri sebagai media dasar menumbuhkan rasa cinta, sebab dengan mengenal dan mengerti rasa cinta sekaligus kesadaran bertanggung jawab, dan lebih jauh dari itu, akan menjadi dasar pertumbuhan dan perkembangan apresiasi serta kreativitas seni menuju pada pengembangan macam ragam dan seni budaya yang berkepribadian”.

Dari ungkapan di atas terlihat bahwa PKB dimaksudkan untuk membangun rasa cinta masyarakat Bali terhadap seni budaya mereka sebagai dasar untuk menumbuhkan apresiasi dan kreativitas seni sesuai kepribadian mereka. Intinya, PKB dimaksudkan sebagai suatu landasan terhadap pertumbuhan seni dan budaya yang didasari atas rasa kecintaan, daya kreativitas, dengan kepribadian yang kuat. Hal ini menjadi lebih jelas lagi ketika setelah membaca buku Landasan Kebudayaan Bali (1996), yang berisikan pemikiran-pemikiran berwawasan jauh ke depan dari Ida Bagus Mantra:
”Kemajuan-kemajuan atau modernisasi memerlukan landasan-landasan yang kuat dan kreatif, yang berakar pada kepribadian. Tatk mungkin terjadi modernisasi dengan budaya yang tidak mendalam, karena kalau terjadi, akibatnya akan menghanyutkan bangsa itu sendiri ke arah ketergantungan pada kekuatan luar.”

Sekali lagi di sini terlihat bagaimana Ida Bagus Mantra telah menggagas PKB sebagai ajang kreativitas seni dengan landasan pemahaman budaya daerah yang kuat. Hal ini patut dilakukan jika kita tidak ingin budaya kita ditenggelamkan oleh arus budaya asing. Dengan sasaran yang lebih ditujukan kepada generasi muda Bali, waktu pelaksanaan PKB kemudian dipilih pada masa liburan sekolah, antara pertengahan bulan Juni sampai Juli.
Berdasarkan pemikiran Ida Bagus Mantra sebagaimana di atas, PKB dilaksanakan dengan visi dan misi yang cukup jelas. Secara ringkas, Visi PKB adalah peristiwa budaya untuk memperkokoh masyarakat Bali yang sadar dan bertanggung jawab akan kelangsungan seni dan budaya sebagai pengokoh jati diri, perekat persatuan, dan sumber kesejahteraan yang terbuka bagi masyarakat lokal, nasional, dan internasional. Misi PKB meliputi
penggalian, pelestarian nilai-nilai luhur budaya, serta pengembangan kebudayaan. Dalam pelaksanaannya, visi dan misi ini direalisasikan ke dalam 5 (lima) program pokok yaitu: pawai, pergelaran, pameran, lomba, sarasehan/lokakarya. Di antara kelima program ini, pergelaran dan pameran dapat dikatakan mendominasi seluruh rangkaian program PKB selama ini.
Kiranya sudah cukup jelas bahwa sejak awal PKB memang dirancang sebagai sebuah even budaya yang bersifat non-religius sehingga tidak sampai merusak nilai-nilai budaya sakral yang hidup dan berkembang di masyarakat. Festival ini diharapkan mampu menanamkan rasa cinta terhadap tradisi budaya sendiri, memberi ruang bagi berbagai hasil kreativitas seni masyarakat Bali untuk diapresiasi oleh masyarakat luas, serta menyediakan ajang rekreasi dan hiburan bagi masyarakat,

3. Pelaksanaan Pesta Kesenian Bali
Dalam penjabaran terhadap ke lima program pokok tersebut di atas, pola pelaksanaan PKB telah mengalami beberapa pergeseran. Di antara beberapa pergeseran yang menarik untuk dibahas menyangkut 3 (tiga) hal, yaitu sekala kegiatan, lokasi pelaksanaan, dan isian materi acaranya.
Hingga tahun 1985, PKB merupakan sebuah festival yang masih berskala lokal Bali. Walaupun pembukaannya dilakukan oleh pejabat pusat (kecuali PKB pertama dibuka oleh Gubernur Ida Bagus Mantra), materi acara yang ditampilkan lebih dominan kesenian Bali yang disajikan oleh para seniman setempat. Datangnya grup Gamelan Sekar Jaya dari California (pada tahun 1985) menjadikan ajang PKB semakin terbuka bagi grup-grup kesenian luar dan asing. Hal ini secara perlahan-lahan merubah citra PKB dari festival seni dengan skala lokal menjadi festival seni lokal plus internasional.
Dalam hal lokasi kegiatan, pelaksanaan PKB yang semula disebar ke berbagai daerah di Bali (desentralistik) kemudian dipusatkan di Taman Budaya, Art Center, Denpasar (sentralistik). Selama hampir dua puluh tahun, aktivitas PKB disebar ke desa-desa, hanya nomor-nomor acara tertentu, yang memerlukan stage besar, dilakukan di Taman Budaya. Sebagai contoh Lomba Gong Kebyar se Bali. Pada tahap penilaian, acara kegiatan disebar ke delapan Kabupaten yang ada di Bali. Hanya grup-grup yang berhasil keluar sebagai juara (I sampai III) diberikan kehormatan untuk pentas di Taman Budaya Denpasar. Pola serupa juga diberlakukan bagi kesenian tradisional seperti dramatari Arja, Wayang Kulit, dan lain-lain yang diadakan di desa-desa yang ditetapkan oleh Kabupaten masing-masing, sementara pertun-jukan Sendratari Kolosal diadakan di panggung terbuka Ardha Chandra, Taman Budaya Denpasar. Cara seperti ini membuka kesempatan bagi masyarakat luas di Bali untuk menyaksikan dan menikmati acara-acara kesenian pilihan sehingga bisa meningkatkan apresiasi seni masyarakat luas terhadap seni dan budaya mereka.
Dalam perkembangan selanjutnya, semua acara kegiatan PKB dipusatkan di Taman Budaya Denpasar. Jika ada kegiatan PKB yang dilakukan di Kabupaten dan Kota di Bali, itupun sebatas mengisi acara PKB tingkat Kabupaten dan Kota sebagai persiapan untuk mengisi acara PKB Provinsi. Hal ini mengakibatkan semakin terbatasnya kesempatan masyarakat di luar kota Denpasar untuk menikmati acara-acara kesenian unggulan yang ditampilkan dalam PKB.
Sejak sekitar dua puluh tahun yang lalu, PKB menuai kritik tajam dari kalangan pengamat seni di Bali. Salah satu penyebabnya adalah pergeseran orientasi program PKB yang lebih mengutamakan kuantitas dari pada kualitas, atau kegiatan yang lebih mengedepankan produk akhir dari pada proses.
Pada tahun-tahun awal dari kiprahnya, PKB hanya menam-pilkan sekitar 15 sampai 25 pergelaran kesenian. Kesenian-kesenian yang ditampilkan digarap dengan sungguh-sungguh melalui proses penggarapan yang cukup panjang. Hasilnya, pergelaran kesenian pada masa-masa itu pada umumnya mampu memikat penonton yang menyaksikannya. Memasuki akhir tahun 1990-an, PKB menampilkan antara 100 sampai dengan 130 acara pementasan kesenian, dengan menyajikan 3 sampai 4 kesenian setiap hari, pada waktu yang hampir bersamaan, di stage-stage yang berbeda di areal Taman Budaya. Hal ini membuat banyak penonton yang kebingungan untuk memilih kesenian mana yang mereka harus lihat. Tidak sedikit yang memutuskan untuk melihat semuanya walaupun secara sepintas. Sajian kesenian seperti ini tampaknya tidak akan mampu memberikan pengalaman seni yang menggetarkan jiwa penonton. Hal ini berbeda dengan harapan banyak orang bahwa pengalaman seni yang bukan saja unik dan baru, tetapi juga harus hebat.

4. Kritik dan Komentar Terhadap Pesta Kesenian Bali
Munculnya sejumlah kritik tajam dari para pengamat dan pencinta seni budaya Bali terhadap PKB di berbagai media massa, patut menjadi perhatian pengelola PKB. Pada tahun 1988, Rai Sulastra menulis sebuah berita berjudul ”PKB Belum Pernah Melahirkan Seniman Besar” di Harian Nusa Tenggara. Pada tahun 1994, di Harian Bali Post, Naya Sujana mempertanyakan keberadaan PKB dalam sebuah tulisan bertajuk ”Pesta Kesenian Atau Pesta Kebudayaan Bali?”. Kemudian tahun 2001, Putu Setia menawarkan agar PKB dibiarkan menjadi sebuah pesta rakyat dimana masyarakat bisa mendapatkan hiburan murah dan meriah. Berdasarkan hasil pengamatannya (hingga tahun 2001), PKB bukan sebuah ”pesta seni dalam arti untuk mengangkat dan mempertunjukkan puncak-puncak seni yang dicapai pada setiap tahun berjalan, namun lebih pada pesta rakyat”. Setahun yang lalu, sejarawan Nyoman Wijaya menuding PKB yang tidak lebih dari sebuah pasar malam. Lontaran-lontaran kritis seperti ini, yang lahir dari rasa kecintaan terhadap PKB, sepedas apapun itu, harus dijadikan bahan pemikiran untuk membenahi pelaksanaan PKB ke depan agar pesta seni ini benar-benar menemukan sasarannya dan menjadi sebuah peristiwa seni budaya kebanggaan kita bangsa Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam usianya yang telah melampaui tiga dasa warsa PKB masih menunjukkan berbagai kelemahan. Ke depan, ada beberapa hal penting yang patut menjadi perhatian Pemda Tingkat I Bali untuk membenahi pelaksanaan PKB. Upaya-upaya pembenahan menyangkut banyak hal. Pertama, peningkatan kualitas karya seni. Semua karya seni yang ditampilkan di PKB agar benar-benar merupakan karya seni unggulan dan ber-taksu. Kedua, jenis kesenian yang ditampilkan, baik yang berupa hasil rekonstruksi atau revitalisasi, pengembangan atau kreasi baru, serta temuan baru yang bersifat eksperimental, harus yang tergolong spesial dan tidak bisa didapat dalam aktivitas sehari-hari di masyarakat. Ketiga, materi acara PKB hendaknya dapat dirancang sedemikian rupa agar mewakili dan mencerminkan kesenian-kesenian unggulan dari kantong-kantong budaya yang tersebar diberbagai wilayah Pulau Bali. Akhirnya, keempat, dokumentasi seluruh kegiatan PKB perlu ditata lebih baik dengan menggunakan teknologi canggih yang tersedia sehingga dapat dengan mudah diakses setiap waktu oleh masyarakat luas.



5. Kontribusi Pesta Kesenian Bali
Setelah tiga puluh satu tahun berkiprah, PKB telah banyak mewarnai serta mempengaruhi arah perkembangan seni-budaya Bali. Walaupun keberadaannya masih saja dipergunjingkan, pelaksanaannya yang tidak pernah luput dari kritik pedas banyak kalangan di masyarakat, PKB telah menyumbangkan banyak hal positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan seni dan budaya Bali. Kontribusi positif PKB terlihat hampir di semua bidang seni, dari seni pertunjukan hingga seni sastra, rupa dan kriya.
Di bidang seni pertunjukan, PKB telah berhasil merangsang kebangkitan kembali sejumlah kesenian tradisional Bali seperti Gambuh, Wayang Wong, Topeng, Arja, dan lain-lainnya. Dengan ditampilkannya kesenian-kesenian rakyat ini di forum PKB, para seniman pendukungnya merasa termotivasi untuk membang-kitkan kembali kesenian kebanggan mereka. Bangkitnya Semar Pagulingan tujuh nada, yang selama beberapa tahun silam pernah meredup, adalah berkat pengaruh PKB. Tidak kalah penting-nya, PKB telah banyak mendorong lahirnya bentuk-bentuk kesenian baru seperti gamelan Adhi Merdangga dan gamelan Semaradahana.
Di bidang seni sastra, PKB telah mendorong lahirnya lakon-lakon baru, bangkitnya pesantiaan, dan lain sebagainya. Tradisi mababasan, yaitu membaca/menyanyikan karya-karya sastra lama, seperti Kakawin Ramayana, Bharata Yudha, Sotasoma, dan lain-lainnya, yang pada masa lampau merupakan aktivitas orang-orang tua, belakangan ini semakin banyak digemari oleh kaum muda.
Di bidang seni rupa dan kriya, PKB juga telah berhasil menjadikan kain tenun ikat (endek) Bali. Setiap tahun kain endek dipajangkan di arena PKB sehingga mendorong para pengerajin tenun ikat untuk menciptakan motif-motif ornamen baru yang cukup menarik minat masyarakat. Kini busana kain endek telah menjadi salah satu tekstil yang cukup dibanggakan bukan saja di negeri tercinta namun juga di manca negara.
Sumbangan PKB yang paling berharga bagi pertahanan budaya Bali terlihat pada proses regenerasi pendukung dan pelaku seni dan budaya Bali. Setiap tahun berbagai grup kesenian remaja dan anak-anak ditampilkan dalam PKB. Hal ini memberi motivasi yang sangat besar bagi para generasi muda Bali untuk ikut ambil bagian dalam pesta kesenian ini. Contoh konkritnya adalah Festival Gong Kebyar Anak-anak. Setiap tahun, tidak kurang dari 700 orang anak-anak usia antara 8-15 tahun yang secara langsung terlibat sebagai pemain, baik sebagai penabuh, penari, maupun penyanyi. Jumlah ini muncul dari sembilan grup dari Kabupaten dan Kota, ditambah satu grup pendamping. Setiap grup melibatkan tidak kurang dari 70 orang pemain yang meliputi 35 orang pemain gamelan, 5 orang penyanyi, 10 orang penari (lepas) dan 20 orang pemain dolanan. Belum lagi ditambah dengan Wayang Kulit Anak-anak, Janger Anak-anak, Barong anak-anak, Ngelawang dan lain sebagainya.
Satu hal lagi, PKB telah mendorong proses demokratisasi seni di Bali. Sejumlah kesenian Bali yang semula dimonopoli kaum laki-laki, kini sudah bisa dimainkan oleh kaum wanita. Gong Kebyar, Wayang Kulit, Topeng, dan Kecak adalah beberapa contoh kesenian yang sudah bisa dimainkan oleh pemain wanita.
6. Penutup
Terlepas dari berbagai kekurangannya, demikian juga beberapa kontribusinya, PKB memiliki posisi yang sangat strategis untuk meningkatkan daya apresiasi masyarakat Bali terhadap keberagaman warisan kesenian daerah yang ada di Bali. Sikap seperti ini sangat dibutuhkan bukan saja bagi pemahaman terhadap kebhinekaan seni budaya Bali dan Indonesia melainkan juga untuk membangun sikap demokratis dari setiap warga masyarakat sebagai bagian dari warga bangsa Indonesia yang multietnis dan multikultur. Jika hal ini bisa diwujudkan maka PKB akan menjadi suatu peristiwa seni yang dapat meningkatkan sikap dan kesadaran budaya warga bangsa Indonesia.



-----------------------------
Makalah disajikan dalam diskusi dengan tajuk “Sharing Festival” dalam rangka Indonesian Dance Festival (IDF), di Taman Ismail Marzuki – Jakarta, 16 Juni 2010.

Dosen Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang banyak terlibat sebagai panitia, pengamat, dan penggarap sejak awal Pesta Kesenian Bali pada tahun 1979.

I Wayan Dibia, “Pesta Kesenian Bali Sebuah Peristiwa Ritual Baru” dalam Dua Puluh Lima Tahun Pesta Kesenian Bali (Denpasar:Panitia Penyelenggara Pesta Kesenian Bali ke XXV, 2003), hal.37.

I Gusti Bagus Sudyatmaka Sugriwa, Pesta Kesenian Bali (Denpasar:Percetakan Bali, 1997), hal. 8

Ida Bagus Mantra, Landasan Kebudayan Bali (Denpasar: Yayasan Dharma Sastra, 1996), hal. 3- 4.

Howard Conant, Art Education (New York: The Center for Applied Research in Education, 1964) hal. 2.

----------------------------












Daftar Pustaka


Conant, Howard
1964 Art Education. New York: The Center for Applied Research in Education.

Dibia, I Wayan
2003 “Pesta Kesenian Bali Sebuah Peristiwa ‘Ritual Baru’” dalam Dua Puluh Lima Tahun Pesta Kesenian Bali. Denpasar: anitia Penyelenggara Pesta Kesenian Bali XXV.


Gde, I Gusti Ngurah (Ketua Tim)
2003 Dua Puluh Lima Tahun Pesta Kesenian Bali. Denpasar:
Panitia Penyelenggara Pesta Kesenian Bali ke XXV.

Geriya, I Wayan
2009 “Paradox Progresi dan Involusi Perkembangan PKB. Makalah disajikan dalam Forum Grup Diskusi PKB XXXI 2009” di Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bajra Sandhi.

Mason, Bim
1992 Street Theatre and Other Outdoor Performance. London and New York: Routledge.

Setia, Putu
2002 Mendebat Bali; Catatan Perjalanan Budaya Bali Hingga Bom Kuta. Denpasar: Manikgeni.


Sugriwa, I Gusti Bagus Sudyatmaka (editor)
1996 Pesta Kesenian Bali, Denpasar: Percetakan Bali.


Sujana, Nyoman Naya
1994 “Pesta Kesenian atau Pesta Kebudayaan Bali” dalam Bali Post, Rabu Paing, 22 Juni 1994.

Sulastra, Rai
1998 “PKB Belum Pernah Melahirkan Seniman Besar” dalam Nusa Tenggara, Jumat 3 Juli 1988.

Wijaya, I Nyoman
2008 ”Membongkar ’Mitos’ PKB Untuk Mencapai Keseim-bangan dan Keharmonisan Masyarakat Bali.” Makalah dibawakan dalam Serasehan Pesta Kesenian Bali (PKB) XXX, tanggal 2 Juli 2008, di ISI Denpasar.

No comments:

Post a Comment